Rabu, 08 Juni 2011

Seni Mengkritik

Tidak ada komentar:

Kalau kemarin teknik menerima kritik sekarang bagaimana teknik mengkritik. Hal mendasar dan sangat penting untuk selalu kita ingat adalah, camkan pada diri sendiri bahwa kita menginginkan perubahan. Esensinya, kita mengharapkan bahwa orang yang kita kritik akan berubah kehidupannya menjadi lebih baik. Maka, yang patut diperhatikan sebaik-baiknya adalah:

            A.    Niat harus Ikhlas
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya.” Sungguh, wahai sahabat niat yang salah akan mempengaruhi pertolongan Allah. Maka, niatkan bahwa koreksi yang akan disampaikan semata-mata disebabkan oleh keinginan yang tulus untuk membantu, membantu apa? Agar pikirannya terbuka tentang kesalahannya.
Selain itu, kita juga berniat baik untuk memberinya dukungan dan motivasi agar bisa memperbaiki diri, semoga kita juga bias membantu dia agar istiqomah dalam meningkatkan kualitas hidupnya tersebut.
Jangan sekali-kali merasa diri lebih tinggi atau lebih hebat. Kesombongan akan mengakibatkan mutu kalimat dan akata-kata yang terucap oleh lidah menjadi rendah dan bernada menggurui bahkan merendahkan. Tentu saja ahal ini tidak diharapkan oleh siapapun.
B.     Perhatikan Situasi dan Kondisi
Orang yang sedang gembira akan berbeda sikapnya saat menerima kriti dengan orang yang sedang berduka. Orang yang sedang berduka biasanya lebih sensitive dan peka ketika menerima kritik. Kemungkinan besar, ia akan menjadi lebih mudah tersinggung.
Orang yang sehat dan yang sakit juga berbeda daya terimanya dalam menghadapi kritik. Maka, sebaik-baiknya situasi adalah keadaan yang tenang dan keadaan tubuh yang sehat wal’afiat. Bukan cuma itu, sebaiknya kondisi kedua pihak sedang lapang. Memberi kritik juga harus dilakukan dengan situasi penuh keakraban dan persahabatan.
Walhasil insya Allah, kritik yang kita sampaikan akan lebih ringan diterima dan dijalani oleh orang tersebut. Terlebih lagi, akan lebih memungkinkan untuk direnungkan secara bijaksana oleh orang yang menerima kritik.

 C.     Perhatikan Cara Mengkritik
Hal pertama yang harus diperhatikan saat mengkritik dan mengoreksi orang lain adlah jangan emosional. Jangan memperturutkan hawa nafsu dan kemarahan. Amarah akan membuat perkataan yang disampaikan menjadi tidak jelas. Selain itu, kalimat kita akan penuh resiko untuk menimbulkan kesalah pahaman.
Sepatutnya, ketika nafsu amarah kita sudah terkendali, jelaskanlah peta situasinya, kesalahannya apa dan pelanggarannya yang mana. Dengan begitu, ia akan paham betul letak kesalahannya dimana. Jelaskan pula apa kerugiannya bila ia tetap berperilaku seperti itu, sehingga semakin jelas keburukan yang tengah dipikulnya.
Yang tak kalah penting adalah, kita harus membantu orang tersubut menemukan solusi dan jalan keluar yang tepat. Insaya Allah akan semakin jelas baginya langkah-langkah yang harus dilakukan agar terhindar dari penderitaan berkepanjangan.
Jangan lupa gambarkan pula apa keuntungannya jika ia perbaiki diri. Ini agar termitivasi untuk melakukan perubahan. Diharapkan orang itu kemudian akan terdorong untuk meninggalkan kesalahan-kesalahannya, melepaskan sifat buruknya, dan bergerak maju dalam memperbaiki diri untuk meningkatkan prestasinya.
Walhasil orang yang kita kritik tersebut tidak akan merasa sedang dipojokkan, apalagi dijerumuskan. Sebaliknya, ia seakan masuk kedalam sebuah ruangan informasi yang sangat jelas. Ia akan bersyukur karena telah disuguhi dengan lengkap semua yang ia butuhkan.
Bagaimanapun pada prinsipnya semua orang selalu ingin mendapatkan yang lebih baik. Dengan begitu, kita perlu meyakinkan dia bahwa kritikan ini adalah untuk kebaikan dirinya. Orang tersebut harus merasa beruntung dengan kritikan kita.
Cara yang kedua ialah sampaikan dengan metode “pesan aku” apa artinya? Semua ini dapat dijelaskan dengan contoh. Misalkansuatu ketika kita mendapati kondisi rumah sedang berantakan, cucian melimpah, dan sudut-sudut kamar semarak dengan sarang laba-laba. Sementara diatas meja penuh dengan sampah yang berserakan.
Menyingkapi ini, maka sampaikan “pesan aku.” Contoh dalam keluarga, bapak misalnya mengatakan, “anak-anak bapak lebih suka jika rumah ini dapat rapid an bersih. Bapak juga akan bahagia sekali bila ruangan ini dapat segera kita tata dengan indah hingga terlihat asri dan menyenangkan.”
Kata-kata tersebut di atas jelas jauh lebih baik daripada untaian kata-kata kasar semacam ini, “aduh anak-anak kalian kotor sekali, pemalas semuanya, lihat itu! Berantakan disana-sini. Apakah kalian tidak mau membereskannya sedikitpun? Aduuuh! Menjijikkan sekali.”
Jelas kata-kata yang bernada serangan semacam itu akan membuat sibuk membela diri, bahkan sampai sakit hati. Orang itu dapat dipastikan sudah tidak mau mendengar apa yang kita katakana. Apalagi mengikuti apa yang kita harapkan.
Cara yang ketiga, gunakanlah teori “burger” trik ketiga ini ibarat makanan burger. Artinya kita memberikan 3 lapisan informasi. Jadi puji dulu dengan pujian proporsional kemudian segera masukkan koreksi yang bernada tidak menggurui, lalu puji lagi pada ujungnya.

 D.    Pantangan Kritik
Pantangan dalam memberikan kritik atau koreksi adalah jangan sekali-kali mengkritik orang di hadapan banyak orang, mengapa? Hal itu tidak akan diartikan sebagai nasihat, melainkan dimaknai sebagai upaya mempermalukan dirinya sehingga selama mendengar kritik atau nasihat kita, yang bersangkutan lebih sibuk menahan rasa malu, repot menghadapi rasa tekanan. Mungkin saja ia merasa sakit hati bahkan memendam, itulah koreksi  yang disampaikan malah menjadi tidak efektif.
Pujian proporsional boleh dilakukan didepan orang. Akan tetapi, kritik atau koreksi akan lebih terjaga bila dilakukan pada waktu dan tempat yang tepat.

 E.     Siap untuk Ditolak
Kita harus siap bahwa yang kita koreksi belum tentu menerima koreksi tersebut. Bias jadi ini karena cara kita yang kurang bagus atau mungkin ini karena dia memiliki persepsi yang berbeda terhadap apa yang kita anggap layak untuk dikoreksi.
Kita juga harus siap dengan kenyataan bahwa dia membantah, menolak atau bahkan sebaliknya menyerang kita, sepatutnya kit adapt benar-benar mengendalikan diri. Semuanya arus terjaga dalam posisi kita sebagai pemberi informasi, bnukan sebagai hakim penghukum.
Insya Allah kalau ikhlas, walaupun di hadapan kita ia tampak menolak siapa tahu dikala ia sedang sendirian dimalam hari misalnya ia akan lebih lapang dalam merenungkan koreksian yang sudah kita sampaikan. Sangat mungkin, dia akan menerimanya serta bersedia sepenuh hati menjalankan apa yang kita sarankan. Sungguh, Allah maha kuasa membolak-balikkan hati siapapun. Betapa pun kecilnya amalan kita, namun bila dilakukan dengan ikhlas, maka Allah swt akan membesar-besarkannya.

 F.      Jangan Merasa Berjasa
Ujian bagi kita adalah ketika orang yang kita koreksi ternyata mau berubah dirinya sesuai yang kita anjurkan dan menjadi sukses! Andai kata kita merasa ujub, bahwa itu karena jasa dan kebaikan kita maka ini menunjukkan bahwa yang sebenarnya layak untuk dikoreksi adalah diri kita sendiri.
            Jadi dalam hal ini kendalikanlah hati, teguhkan keyakinan bahwa hanya Allah yang berkuasa mengubah seseorang sementara kita sendiri patut mensyukurinya, mengapa? Allah Swt, telah berkenan menjadikan diri kita sebagai jalan bagi datamngnya pertolongan Allah.
Apabila tanda-tanda perubahan tidak tampak, janganlah kita patah semangat, jangan menyerah untuk sekedar memberikan input atau masukan terbaik dengan cara yang lebih inovatif lagi, tentunya dengan hati yang lebih bening. Setidaknya taburan doa-doa kita mengiringi hari-harinya untuk melakukan perubahan. Ini merupakan tanda keikhlasan kita untuk memperbaiki orang itu.
selengkapnya [...]
newer posts newer posts newer posts

Yasin Yusuf, M. Pd

Yasin Yusuf, M. Pd

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Pengikut

Support By

Blogger Bertuah
Copyright © 2011-2012 yasiny_165: Juni 2011 | By Blogger Bertuah