Senin, 02 Oktober 2017
Membudayakan Literasi untuk Mewujudkan $ekolah yang Literat
A.
PENGANTAR
Pada Forum Pendidikan
Dunia tahun 2015 yang diselenggarakan di Korea Selatan bulan Mei lalu, sebuah
laporan disampaikan bahwa negara-negara Asia menempati peringkat lima besar
dalam ranking sekolah berprestasi terbaik yang dikeluarkan oleh Organisasi
untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), namun Indonesia menempati
urutan 10 terbawah. Laporan BBC menunjukkan bahwa anak-anak Singapura berusia
15 tahun memimpin dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan, diikuti oleh
Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan. Sebanyak 76 negara diikut sertakan dalam
survey tersebut, di mana survey dikatakan jauh lebih komprehensif dibanding tes
PISA dari OECD yang juga menempatkan Indonesia dalam posisi buruk. Direktur
Pendidikan OECD, menunjukkan dalam laporan tersebut bahwa rahasia kesuksesan
sekolah berprestasi terbaik di atas adalah guru yang baik. Merujuk pada laporan
tersebut yang menyatakan bahwa sekolah-sekolah di Indonesia menduduki peringkat
10 paling bawah maka dapat diasumsikan bahwa selama ini praktik-praktik
pembelajaran yang dilaksanakan oleh para guru di sekolah di Indonesia belum
memberikan dampak terhadap perkembangan pembelajaran dan pendidikan.
Guru memiliki peran penting dalam
merangsang siswa untuk belajar, sehingga dalam melaksanakan pembelajaran, Guru
harus menggunakan pendekatan yang komprehensif serta progresif sehingga guru
bisa memotivasi rasa ingin tahu siswa dan memicu mereka untuk berpikir kritis.
Hal ini akan berhasil salah satunya jika guru mampu mengembangkan pembelajaran
yang tepat sehingga pembelajaran yang dilaksanakan dapat meningkatkan kemampuan
literasi dan potensi siswa seutuhnya, dalam pengembangan pembelajaran ini juga
didalamnya guru harus mampu memilih dan memanfaatkan bahan ajar yang ada sebaik
mungkin, salah satunya yaitu buku, guru harus mendorong siswa untuk membaca
buku-buku yang berkualitas, karena membaca sejalan dengan proses berpikir
kritis yang memungkinkan siswa untuk kreatif dan berdaya cipta.
Jangan
berhenti belajar. Ungkapan tersebut sering kali dialamatkan bagi kalangan
guru-guru. Profesi yang satu ini haram hukumnya jika sampai berhenti belajar
karena mereka sering mengajar. Apa jadinya jika seorang guru malas atau bahkan
berhenti belajar, ilmu yang disampaikan kepada anak didiknya dipastikan tidak
berkualitas, untuk tidak dikatakan banyak bolong dan bohongnya. Maka jika guru
sudah malas belajar, guru tersebut harus bersiap meninggalkan pekerjaannya.
B.
MASALAH
Dalam konteks
Indonesia, minat baca masyarakat kita sangat mengkhawatirkan. Hal ini
dikarenakan berbagai permasalahan, seperti:
1. Gagalnya Perpustakaan Sekolah.
Perpustakaan sekolah secara nasional
boleh dikata telah gagal menciptakan budaya membaca pada siswa. Kunjungan guru,
siswa dan jumlah peminjaman buku sangat minim karena beberapa faktor:
a. Jumlah buku-buku perpustakaan jauh
dari mencukupi kebutuhan tuntutan membaca sebagai basis pendidikan,
b. Peralatan dan tenaga yang tidak sesuai
dengan kebutuhan. Padahal perpustakaan sekolah merupakan sumber membaca dan
sumber belajar sepanjang hayat yang sangat vital dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa.
2. Secara politis dan sosial
a. Kurangnya political will dari
pemerintah (Depdiknas) dan Dinas Pensisikan Kabupaten/ Kota dalam menciptakan
budaya membaca siswa.
b. Kurangnya pemahaman dan kesadaran
bangsa tentang pentingnya budaya membaca itu sendiri.
c. Permasalahan budaya membaca dianggap
belum merupakan critical problem. Banyak masalah lain yang dianggap
lebih mendesak.
d. Secara historis, budaya literer tidak
banyak ditemui di masyarakat kita. Budaya literer belum memasyarakat dan hanya
ditemukan pada masyarakat kelas atas.
3. Masalah teknis di lapangan
a. Tidak tersedianya buku bacaan karena
rendahnya jumlah perpustakaan di Indonesia dan rendahnya jumlah buku.
b. Kurangnya SDM di bidang perpustakaan
dan rendahnya kualitas pengetahuan dan keterampilan mereka.
c. Perpustakaan tidak pernah menjadi
bagian integral dalam sistem pendidikan kita secara nyata.
4.
Global Threat
a. Rendahnya Reading
Literacy bangsa kita
saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya
daya saing bangsa dalam persaingan global.
b. SDM kita tidak kompetitif karena
kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini adalah akibat lemahnya minat dan kemampuan membaca
dan menulis.
c. Krisis
Moneter Juli 1997. Korea
Selatan, Thailand, Malaysia dan Singapura, mampu mengatasi krisis ekonomi
bangsanya relatif dalam waktu pendek hanya sekitar 2 – 3 tahun saja. Bangsa
Indonesia sampai saat ini belum juga bisa bangkit.
d. Saat ini Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tersebar di 142 negara. Para
TKI itu datang dari 392 Kabupaten/Kota. Mereka ini hanya mengisi posisi sebagai
tenaga kasar yang tidak membutuhkan kemampuan membaca. Tanpa upaya untuk
meningkatkan kemampuan membaca sebagai dasar untuk belajar dan mengembangkan
ketrampilan hidup maka bangsa kita akan terus menjadi bangsa kuli seperti yang
disinyalir oleh Soekarno, Founding Father kita.
e. Membaca dan
menulis belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Membaca
dan menulis harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita.
f. Mengadakan perubahan budaya masyarakat
memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar 1 atau 2 generasi, tergantung
dari “political will pemerintah dan masyarakat“ Ada
pun ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15 – 25 tahun.
g. Anak-anak, guru kita berkali lipat
lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton TV daripada membaca.
h. Bahkan di sekolah, di mana anak-anak
kita menghabiskan sebagian besar waktunya, kita tidak memiliki program untuk
menumbuhkan budaya membaca
C.
PEMBAHASAN DAN SOLUSI
a.
Pembahasan
Hasil
studi Vincent Greannary yang
dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Crisis to
Recovery“ tahun 1998,
menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya
51,7. Jauh dibandingkan dengan Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand
(65,1) dan Filipina (52,6). Hasil studi ini membuktikan kepada kita bahwa
membaca belum –kalau tidak mau dikatakan bukan- menjadi program yang integral
dengan kurikulum sekolah, apalagi menjadi budaya. Laporan UNDP tahun 2003 yang
menyatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index - HDI)
berdasarkan angka buta aksara posisi Indonesia berada pada urutan 112 dari 174
negara. Posisi ini berada di bawah Vietnam (urutan ke 109) yang baru keluar
dari konflik yang berkepanjangan. Tahun 2010 Indonesia berada di Peringkat 108
dari 152 negara. Pada tahun 2011 index Human Development Index (HDI) Indonesia
pada peringkat 124. Hal ini membuat Indonesia berada di perngkat terbawah di
ASEAN dimana Singapore berada di peringkat 26, diikuti oleh Brunei (33),
Malaysia (61), Thailand (103) and the Philippines (112).
Hasil
penelitian PISA menempatkan
siswa Indonesia pada posisi 48 dari 56
negara di dunia di tahun 2006 dengan skor rata-rata 393. Minat baca
rendah inipun terulang di 2009. Hasil penelitian PISA menempatkan posisi
membaca siswa Indonesia di nomor 57
dari 65 negara dunia, dengan skor
rata-rata 402 sementara rerata internasional 500. Hasil uji tes PISA yang dilakukan tiga tahun
kemudian yaitu pada tahun 2012 ternyata hasilnya lebih buruk lagi. Hasil PISA
2012 menempatkan siswa Indonesia pada posisi kedua terburuk atau posisi 64 dari 65 negara . Padahal
Vietnam justru masuk pada posisi 20 besar. penelitian PISA menempatkan posisi
membaca siswa Indonesia di nomor 57
dari 65 negara dunia, dengan skor
rata-rata 396 sedangkan rerata internasional 496.
Dalam hal
kualitas sumber daya manusia, Indonesia sedang mengejar ketertinggalannya dari
negara-negara lain (beberapa parameter evaluasi yang menunjukkan rendahnya
capaian siswa Indonesia dalam kemampuan membaca dan matematika antara lain tes
PISA dan USAID-EGRA). Permasalahan sebaran fasilitas dan infrastruktur
pendidikan yang tidak merata, kondisi geografis daerah terpencil, perbatasan
dengan aksesibilitas yang rendah, tingginya tingkat keragaman latar belakang
sosial dan budaya masyarakat yang tersebar di wilayah yang sangat luas menjadi
tantangan pengembangan kurikulum, bahan ajar, dan metode pengajaran anak di
sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Saat ini, metode dan
konten pengajaran literasi Indonesia masih berfokus pada pemberantasan buta
huruf dan pembacaan teks secara literal, yang tidak lagi relevan dengan
kebutuhan dunia global yang bergerak secara cepat.
Sesungguhnya permasalahan
umum dalam dunia literasi di Indonesia adalah rendahnya ikatan emosional
terhadap sumber informasi salah satunya buku bacaan dan kegiatan pemanfaatan
sumber infomrasi tersebut atau kegiatan membaca. Terkait dengan buku sebagai salah
satu sumber informasi, rendahnya minat dan gairah membaca sebagian berakar dari
masih kuatnya tradisi lisan dalam kehidupan sosial dan pola berpikir masyarakat
Indonesia. Teknologi yang menawarkan kemudahan untuk mendapatkan informasi
telah menjadi jalan pintas di saat membaca teks cetak (print). Membaca bermakna
belum menjadi budaya yang tertanam kuat. Akibatnya, pengguna teknologi sering
mengalami ‘gagap membaca media informasi’ yang ditandai dengan kurangnya sikap
kritis dalam memilah dan mengevaluasi akurasi informasi, kurangnya pemahaman
terhadap informasi, atau menyalahgunakan informasi secara tidak tepat (misalnya
dalam kasus plagiasi).
Secara umum, tantangan
dalam dunia literasi Indonesia dapat digolongkan dalam beberapa aspek sebagai
berikut:
1. Anak memiliki akses yang terbatas
terhadap sumber informasi terutama buku.
2. Ketersediaan sumber-sumber informasi
terutama buku-buku yang berkualitas terbatas.
3. Buku tidak digunakan dalam kegiatan
interaktif yang menarik dan berkelanjutan.
4. Kurangnya figur teladan “pembaca” di
rumah, sekolah, dan lingkungan.
5. Minat Membaca Anak Perlu Dirawat
6. Pendidikan Literasi kecakapan utama
membentuk kemampuan Berpikir Tinggi.
Pembelajaran
yang dilaksanakan oleh guru-guru di sekolah belum mampu mengembangkan kemampuan
berpikir tinggi (high-thinking order) yang meliputi kemampuan analitis,
sintesis, evaluatif, kritis, imajinatif, dan kreatif. Di sekolah, terdapat
dikotomi antara belajar membaca (learning to read) dan membaca untuk belajar
(reading to learn). Ketika anak sudah dapat membaca teks secara literal dengan
fasih (fluent), orang dewasa berhenti mengajarkan membaca. Ketika mempelajari
konten mata pelajaran seperti ilmu pengetahuan alam dan sosial, juga
matematika, orang dewasa tidak mengunakan teks materi pelajaran untuk
mengembangkan kemampuan berpikir tinggi tersebut. Tidak heran apabila di bangku
perguruan tinggi, siswa kesulitan untuk mengembangkan dan mereproduksi cara
berpikir ilmiah yang mencakup daya kritis, analitis, sintesis, dan imajinatif.
Dalam
perkembanganya menulis bagi seorang guru merupakan kebutuhan yang tidak mungkin
bisa dilepaskan dalam dunia kependidikan. Apa lagi pada zaman globalisasi
seperti sekarang, menulis merupakan hal yang amat penting, karena akan membantu
tenaga pendidik dalam berkarir.
Memasuki dunia
globalisasi bila guru tidak bisa menulis maka akan tertinggal dari yang lain,
bahkan sekarang sudah ada MEA, persaingang guru tidak hanya dari dalam negeri
bahkan kita bersaingan dengan guru dari negara yang lain.
Kalau tidak
meningkatkan kualitas kita dalam mendidik maka bisa dibayangkan kelak guru-guru
yang akan mengajar anak-anak kita adalah guru-guru dari negara lain. Bagaimana
kelak nasib dunia pendidikan Indonesia bila demikian, jelas kearifan lokal kita
akan hilang. Identitas negara juga lambat laun akan pudar, jangan harap
berbicara nasionalisme karena guru-guru yang mengajar bukan dari negara
sendiri. Untuk itu kualitas guru di Indonesia harus ditingkatkan kalau kita
tidak mau tertinggal dari guru-guru dari negara yang lain.
Menulis adalah
salah-satu cara untuk meningkatkan kualitas guru, ketika guru sudah mulai bisa
menulis, maka dia akan mudah dapat mengisi kolom-kolom media yang dalam dunia
globalisasi sekarang semakin banyak dan kompetitif.
Mempersiapkan
diri untuk bisa kompetitif dalam dunia pendidikan bagi guru merupakan hal
mutlak yang harus seorang guru lakukan. Dalam dunia globalisasi siapa yang
tidak bisa bersaing maka dia akan tersingkir, maukah kita tersingkir di negeri
kita sendiri?
Mulailah
membuang paradigma guru hanya sekedar mengajar setelah itu pulang, seolah-olah
guru hanya mengugurkan kewajiban saja. Guru dalam dunia globalisasi tidak
seperti itu, guru harus bisa berkarya, harus bisa berkembang, dan lebih maju
dari sebelumnya.
Karena
tuntutan seperti itu seharusnya sebagai seorang guru tidak ada kata berhenti
belajar, setiap hari harus mau belajar meski hanya mendapatkan satu ilmu baru.
Di Indonesia
sendiri masih sangat sedikit guru yang aktif menulis, bahkan dikalangan
media, guru belum terlalu akrab. Ini bisa kita lihat di koran maupun media yang
lain, sangat jarang kita temui guru yang menulis opini mengenai pendidikan
misalnya.
Guru masih
kalah produktif dalam hal penulisan dengan dosen-dosen, padahal seharusnya
tidaklah demikian karena seorang guru lebih aktif di dalam proses belajar
mengajar. Berbeda dengan seorang dosen walaupun sama-sama mengajar namun
mengajar mahasiswa biasanya akan lebih mudah diarahkan untuk mencari materi
sendiri. Namun kenyataanya dari beberapa sumber guru di Indonesia sangat tidak
produktif dalam hal penulisan.
Stagnasi
kualitas guru tampak dalam peningkatan jenjang karir. Saat ini jumlah guru
golongan IV/b hanya 0,087 persen, golongan IV/c 0,007 persen, dan IV/d 0,002
persen. Kebanyakan guru yaitu 569.611 orang atau 21,84 persen, stagnan di
golongan IV/a. Ini disebabkan karena banyak guru tidak bisa naik ke golongan
IV/a karena tidak mampu dalam menulis dan membuat karya ilmiah. (Kompas).
Profesionalisme
guru yang dibangun di atas fondasi kompetensi akademik, kepribadian, sosial dan
pedagogis membutuhkan kompetensi menulis dan belajar menulis guna membangun
kualits diri sehingga mampu meningkatkan performa keempat kompetensi tersebut.
b. Solusi
Apa yang
harus kita lakukan untuk mengubah keadaan ini? Harus ada upaya intervensi secara sistemik, massif, dan
berkelanjutan untuk menumbuhkan budaya membaca pada masyarakat (dunia
pendidikan) sekarang juga.
Apa itu Gerakan
Literasi Sekolah? Gerakan Literasi Sekolah. adalah sebuah gerakan untuk menjadikan
sekolah-sekolah memiliki budaya membaca setara dengan sekolah di negara-negara
maju lainnya. Gerakan ini dimulai dari sekolah yang mau melaksanakan program
Gerakan Literasi sekolah. IGI dan Eureka Academia akan membuat program literasi
membaca dan menulis yang komprehensif di sekolah. Program ini akan mengajak
sekolah menerapkan program membaca yang berkelanjutan (sustainable) di
mana semua orang yang berada di sekolah (guru, siswa, kepala sekolah) melakukan
kegiatan membaca setiap hari dengan alokasi waktu yang telah ditentukan.
Gerakan ini bertujuan untuk menjadikan sekolah memiliki komunitas yang memiliki
budaya membaca yang tinggi. Budaya membaca ditandai dengan tingginya jumlah buku yang dibaca di
sekolah.
Bagaimana
menjadikan sebuah sekolah mengikuti Program Gerakan Literasi Sekolah? Dibutuhkan program intervensi pembudayaan membaca yang
tepat, mudah dilaksanakan,
dilakukan secara sistemik,
komprehensif, merata ke semua komponen di sekolah, berkelanjutan, dan dikelola
secara profesional oleh lembaga yang mampu menanganinya.
Apa
keuntungan menjadikan Sekolah mengikuti Program Gerakan
Literasi Sekolah? Hasil Riset menunjukkan bahwa :
1. Budaya membaca dari sekolah (1992)
menunjukkan hasil trend peningkatan prestasi siswa di sekolah-sekolah
yang melakukan program membaca secara sukarela ini.
2. Siswa yang memiliki budaya literasi
membaca dan menulis akan menjadi siswa yang siap memasuki kehidupan modern dan
memiliki tingkat daya saing yang tinggi. Siswa tersebut dengan mudah akan mampu
mengikuti perkembangan kehidupan kota modern tanpa kehilangan jati diri.
3. Sekolah yang mengikuti program ini
akan dapat memiliki tingkat kelulusan siswa dalam ujian nasional yang lebih
tinggi daripada sekolah lain di Indonesia. Riset membuktikan bahwa siswa yang
nilainya pada peringkat 25% tertinggi menggunakan waktunya 59% untuk membaca
lebih banyak daripada siswa yang nilainya 25% di bawah.
4. Sekolah yang mengikuti program ini
akan memiliki siswa yang memiliki budaya dan kemampuan membaca dan menulis yang
tinggi yang bercirikan siswa yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas
pula.
5. Budaya membaca dan menulis pada
hakikatnya dilakukan dengan disiplin membaca dan menulis yang dilakukan secara
rutin dan terus-menerus. Disiplin ini merupakan modal utama bagi terbentuknya
jiwa disiplin dalam bidang lain. Disiplin membaca dan menulis akan membentuk
pola kedisiplinan siswa pada bidang lain secara jauh lebih mudah.
6. Sekolah yang mengikuti program ini
akan dapat memiliki perpustakaan sekolah yang akan berkembang menjadi
perpustakaan yang modern dan menjadi bagian yang integral dalam kegiatan
keperpustakaan di Indonesia
Hal ini dapat dicapai melalui beberapa
kegiatan beriku ini:
a.
Mendapatkan
Buku Bacaan Untuk sekolah
Mengupayakan untuk mendapatkan buku bacaan bagi sekolah minimal
sebanyak 2 X jumlah siswa di sekolah secara bertahap dengan minimal 60 judul
(setiap judul 5 eksemplar). Setiap kelas akan memiliki buku bacaan untuk dibaca
di kelas secara rutin.
b.
Seminar
dan Workshop tentang Membaca
Mengadakan seminar launching
project sekolah gerakan literasi
sekolah dengan mengundang para pembicara dari berbagai sumber.
Peserta merupakan perwakilan dari pengelola sekolah, guru, siswa, pustakawan,
dan pemerhati pendidikan.
c.
Program
Ayo Membaca di Sekolah (AMS)
Program AMS atau SSR (Sustained Silent Reading) adalah
strategi intervensi membaca yang digunakan oleh negara-negara maju dalam
membudayakan dan meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca. Program AMS ini
merupakan program yang sangat krusial untuk menjamin terciptanya kebiasaan dan
budaya membaca siswa. Program ini adalah program wajib bagi sekolah yang ingin
mengikuti program gerakan literasi
sekolah.
d.
One
Child One Book (OCOB)
OCOB adalah program yang
dirancang untuk meningkatkan jumlah dan jenis buku bacaan di sekolah. Program
ini dirancang agar setiap siswa di sekolah memiliki paling sedikitnya satu buku
untuk dibaca, baik di rumah maupun di sekolah. Dalam program ini sekolah
diminta untuk mengimbangi pemberian buku dari donor dengan meminta partisipasi
dari orang tua untuk menyumbangkan satu buku untuk setiap anaknya yang
bersekolah.
e.
Reading
Contest (Speed/comprehension reading)
Reading contest adalah program
untuk meningkatkan motivasi siswa dalam membaca. Pemenang dari kontes ini akan
mendapatkan award berupa buku-buku bacaan.
f.
Meet
the Author(s)
Program ini dirancang untuk
meningkatkan minat siswa untuk membaca buku dari penulis atau pengarang
tertentu. Sekolah mendatangkan satu atau beberapa penulis buku tertentu untuk
mengadakan acara ‘Jumpa Fans’ dan diskusi atau bedah buku tentang buku dari
penulis tersebut
g.
Reading
Award
Yaitu pemberian penghargaan
kepada individu (siswa atau guru) maupun kelompok (sekolah) yang dianggap telah
memiliki kontribusi dan peranan penting dalam memajukan pembudayaan baca di
Indonesia. Reading Award diberikan setahun sekali bertepatan dengan Hari
Pendidikan Nasional.
h.
Perpustakan
Kelas
Perpustakaan kelas adalah program yang dilakukan untuk mendekatkan
siswa ke buku. Daripada mewajibkan anak untuk setiap hari ke perpustakaan
sekolah akan lebih mudah bagi siswa untuk membaca jika mereka memiliki
perpustakaan kelas yang akan mereka kelola sendiri di masing-masing kelas.
Intinya adalah buku mendatangi siswa, bukan sebaliknya.
i.
Story
Telling Competition
Serupa dengan Reading Contest,
kegiatan ini berupa lomba bagi siswa untuk menjadi ‘Story Teller’. Pemenang
akan mendapat hadiah berupa buku-buku bacaan dan penghargaan dalam bentuk lain.
j.
Book Expo
Book Expo adalah program pameran buku dari beberapa penerbit atau toko buku
yang bertujuan untuk mendorong siswa dan komunitas untuk membeli dan membaca
buku-buku terbitan baru ataupun lama dengan harga khusus. Pada saat itu
diadakan juga stand khusus penjualan buku-buku bekas yang diperoleh dari
sumbangan masyarakat dengan harga sangat murah.
k.
Share
a Story
Share a Story adalah program kegiatan yang mewajibkan setiap siswa untuk
menceritakan suatu cerita yang dipilih masing-masing kepada orang-orang di
sekitarnya. Kegiatan ini untuk mendorong setiap siswa untuk menjadi a Story
Teller.
l.
Let’s
Write Our Own Story
Let’s
Write Our Own Story adalah program kegiatan
untuk mendidik setiap siswa agar dapat menjadi penulis dengan mengajarkan
mereka untuk menuliskan ide-ide mereka dalam bentuk karya prosa. Dengan menetapkan
pelatihan menulis khusus bagi guru dan siswa. Diharapkan bahwa setiap tahun
akan terbit kumpulan karya tulis terbaik dari para guru dan siswa.
D. KESIMPULAN
DAN HARAPAN
1. Kesimpulan
Warga sekolah, tidak hanya siswa
tetapi juga guru bahkan orangtuanya harus membiasakan diri dalam kehidupan
literasi. Buku bacaan menjadi salah satu bagian hidup yang tidak terpisahkan
dalam keseharian warga sekolah. Maka mulai dari sekolah, siswa dibiasakan untuk
membaca dan mereview buku bacaan yang mereka pilih. Secara nasional, Gerakan
Literasi Sekolah tersebut dilakukan secara terintegrasi dalam budaya sekolah.
Melihat
pentingnya peran guru, maka keberhasilan gerakan literasi sekolah ada pada
pundak bapak ibu guru di sekolah. Sementara kepala daerah, kepala Dinas
Pendidikan, atau kepala sekolah membantu dengan dukungan kebijakan. Keluarga di
rumah memberikan support dalam memfasilitasi yang dibutuhkan anaknya dalam
menumbuhkan budaya literat
Keterlibatan guru-guru dalam bedah
buku diharapkan mereka memiliki gambaran dalam menjalankan program literasi di
sekolah. Salah satu tahapan kegiatan literasi adalah mereview buku-buku yang
menjadi bacaan anak-anak di sekolah. Siswa yang berhasil mencapai target
membaca dan meriview buku maka ia akan mendapatkan penghargaan dari sekolah dan
atau pemerintah.
Ke depan, guru-guru juga dituntut
untuk bisa membedah dan mereview buku-buku yang mereka baca secara rutin dan
berkesinambungan. Menumbuhkan gemar membaca dan membiasakan budaya menulis.
Dengan melalui program dan kegiatan yang sama, maka tidak hanya siswa yang
berproses cerdas tetapi juga guru-gurunya tetap menjaga mutunya sebagai guru
professional dengan kesejahteraan hidupnya semakin membaik
2.
Harapan
a. Terciptanya kebiasaan membaca dari
guru, staff, maupun murid di sekolah dengan berjalannya program gerakan
literasi sekolah secara konsisten, sistemik, dan berkelanjutan.
b. Siswa dapat
membaca buku sebanyak 1.000.000 (satu juta) buku dalam 1 (satu) tahun. Target ini dapat dicapai dengan asumsi
setiap siswa dapat membaca 5 (lima) buah buku dalam setahun. Jadi jika ada
200.000 siswa di Propinsi Riau yang mengikuti program ini maka target ini akan
dapat dengan mudah tercapai.
c. Peningkatan jumlah buku bacaan siswa
sebanyak 200% (2 x lipat).
d. Peningkatan jumlah kunjungan siswa ke
perpustakaan sebanyak 1000% (10 x
lipat).
e. Peningkatan jumlah pinjaman buku di
perpustakaan sebesar 1000% (10 x lipat).
f. Peningkatan jumlah buku yang dibaca
oleh siswa sebesar 1000% (10 x lipat)
E.
DAFTAR
PUSTAKA
Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur. 2016. Gerakan Literasi Sekolah Propinsi Jawa Timur. Proposal.
Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan . 2016. Panduan
Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah
Menengah Pertama. Jakarta.
Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah
Dasar. Jakarta.
Deny Rochman. 2016. Membangkitkan Budaya Literasi Guru. http://padenulis.blogspot.co.id/2016/05/membangkitkan-budaya-literasi-guru.html. online 28/10/2016.
Sugianti. 2015. Dengan
Membaca Kita Bisa Menulis,Dengan Menulis Kita Pasti Membaca.http://sugiantibisri.blogspot.co.id/2015/09/pentingnya-literasi-bagi-guru_2.html.
online 28/10/2016.
Suherli
Kusmana. 2009. Membangun Budaya Literasi.
http://suherlicentre.blogspot.co.id/2009/11/membangun-budaya-literasi.html.
online 28/10/2016.
Wisnu Nugraha. 2012. Membentuk Budaya Literasi Siswa. http://septiardi-prasetyo.blogspot.co.id/2012/04/membentuk-budaya-literasi-siswa.html. online 28/10/2016.
Langganan:
Postingan (Atom)



