Rabu, 11 Mei 2011
Malas Membaca Malas Menulis
Hampir semua orang jago ngomong tapi tidak semua orang jago nulis, kalau di tanya pada mahasiswa kapan anda menulis sebuah karya? Nanti sewaktu menyelesaikan Tugas Akhir (TA). Miris sekali kalau ada rekan-rekan mahasiswa UIR mempunyai jawaban seperti itu, tapi kalau dilihat dari kaca mata lain ada benarnya juga, karena mahasiswa dituntut menulis hanya untuk menyelesaikan proposal dan skripsi saja.
Disamping itu ada juga seorang teman yang berargumen “seorang dosen yang telah berpuluh tahun mengajar bahkan sudah doctor tapi saya belum pernah melihat buku dan karya tulis yang di buatnya, aturannyakan bisa buku atau tulisannya itu di jadikan referensi bahan ajanya selama ini cuman ngomong saja didepan kelas.”Setelah saya pikir benar juga apa yang dikatakan teman satu ini, bisa jadi dosen yang selama ini mengajar, membimbing dan menguji skripsi mahasiswanya hanya menulis sewaktu mereka menyelesaikan Strata satu (S1) skripsi atau Strata dua (S2) tesisnya saja.
Padahal untuk mengukur kualitas, kuantitas dan loyalitas seorang dosen dapat dilihat dari apa yang dikatakannya, dilakukannya dan produk yang dihasilkannya bukan saja dari nilai akademisnya.
Saya pernah bertanya kepada seorang kawan yang baru setahun ini meninggalkan UIR dan kebetulan pada tahun 2009 yang lalu dia mendapatkan anugrah sagang “ bagaimana menjadi penulis yang baik itu bang?” dengan dialek melayunya yang kental walaupun dia bukan asli melayu menjawab “penulis yang baik adalah pembaca yang baik, pembicara yang hebat adalah pendengar yang hebat, kalau awaktu nak bisa menulis banyak-banyaklah membaca!”
Kenapa kita susah menulis? Saya mengutip pembicaraan Zainul Ikhwan sewaktu mengisi pelatihan jurnalistik sehari di FAPERTA akhir 2010 lalu “itu karena kemalasan kita, malas membaca, malas menggali informasi, malas menulis yang tertanam dibenak kita itu hanya menerima”
Sebelum menulis, biasanya seorang penulis yang baik membaca beberapa tulisan orang lain terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar dapat mengembangkan ide dalam menulis. Buat mereka yang terbiasa menulis, biasanya mereka sudah tahu kapan harus memulai dan kapan harus mengakhiri. Seperti orang yang sudah terbiasa menjalankan kendaraan bermotor saja. Sudah tahu kapan harus masuk gigi, dan kapan harus mengerem. Semua itu tertanam dalam dirinya karena jam terbang. Semakin banyak jam terbang dalam mengendarai sepeda motor misalnya, maka semakin lancar pula menjalankan sepeda motor itu. Filing yang sudah menyatu dengan motor, sehingga kita sudah tahu cara belok ke kiri dan ke kanan secara pas. Berbeda halnya bila kita baru belajar, pasti kita akan terlihat sekali ketakutannya. Begitu pun dengan menulis dan membaca. Semua itu akan menyatu bila kita telah membiasakannya setiap hari.
Sebenarnya kita memiliki kemampuan yang baik untuk menulis hal itu bisa kita lihat dari hal yang terkecil misal Sorth Massage Service (SMS) yang ada di handphone kita, e-mail, Facebook (FB), twiter dan yang lainya, rupanya kita sudah menghasilkan sebuah tulisan.aklamasi.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar